Pengertian Hadits Maqbul

Al-Hadits artinya cerita, kabar. Hadits adalah segala sesuatu yang disandarkan pada Rasulullah SAW baik perkataan, perbuatan, ketetapan maupun sifat halqiyah dah khuluqiyah. Hadits seperti yang dipahami oleh ilmu Islam, secara terminologis yaitu perkataan, persetujuan, dan perbuatan yang diriwayatkan oleh Nabi SAW[1]. Para sahabat memahami hadits sebagai apa yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW tentang perkara-perkara amaliah yang harus diikuti oleh umat islam. Secara etimologis (pengertian asalnya) bermakna ‘jalan yang diikuti’. Oleh karena itu, Hadits berarti perbuatan Rasulullah yang harus diikuti dan dijadikan landasan syariat[2].

Maqbul menurut bahasa adalah yang diambilyang diterima dan yang dibenarkan. Hadits yang memenuhi persyaratan tertentu yang telah ditetapkan oleh ulama hadits untuk dapat diterima dan dijadikan hujah[3].[4] Sedangkan menurut istilah ahli hadits, hadits maqbul ialah hadits yang telah sempurna syarat-syarat penerimaannya . Adapun syarat-syarat penerimaan hadits menjadi hadits yang maqbul berkaitan dengan sanad-nya yang tersambung, diriwayatkan oleh rawi yang adil dan dhabit (orang yang mengetahui dan memahami dengan baik apa yang diriwayatkan), dan dari segi matan (perkataan dan perbuatan nabi) yang tidak syadz (meriwayatkan sendiri dan riwayatnya berlawanan dengan riwayat orang banyak), dan tidak terdapat illat (cacat).

Hadits maqbul ialah hadits yang dapat diterima sebagai hujjah. Jumhur ulama sepakat bahwa hadits Shohih dan hasan sebagai hujjah. Pada prinsipnya, baik hadits shohih maupun hadits hasan mempunyai sifat-sifat yang dapat diterima (Maqbul).

Sedangkan menurut istilah ulama hadits (urf Muhaditsin) hadits Maqbul ialah:

Artinya:
“Hadits yang menunjuki suatu keterangan bahwa Nabi Muhammad SAW menyabdakannya.”

2.2       Persyaratan Hadits Maqbul

Persyaratan hadits maqbul yang ditetapkan oleh jumhur ulama hadits adalah persyaratan shahih, yaitu sanadnya bersambung sampai kepada Nabi SAW atau sahabat (muttasil) periwayatnya adil dan dabit (kuat hafalan) , tidak mengandunga syazz (penyimpangan dari aturan), dan tidak mengandung ‘illah (cacat) atau minimal memiliki persyaratan hasan, yakni syarat-syarat tersebut di atas kecuali sifat dabit periwayatnya yang kurang sempurna. Oleh karena itu, pembahasan hadits maqbul dalam kitab-kitab ilmu hadits langsung dikaitkan dengan pembahasan hadits sahih dan hadits hasan masing-masing dengan kedua bentuknya yakni sahih li zatih dan sahih li gairihi.

Meskipun hadits maqbul adalah hadits yang memenuhi syarat untuk diterima dan dijadikan hujah, namun tidak berarti bahwa setiap hadits maqbul itu langsung diamalkan oleh ulama karena ada kalanya terdapat hal-hal yang menyebabkan tidak dapat diamalkan. Hadits maqbul yang dapat diamalkan disebut Maqbul ma’mul bih dan yang tidak dapat diamalkan disebut Maqbul gair ma’mul bih.[5]

2.3       Klasifikasi Hadits Maqbul

Hadits maqbul bila ditinju dari segi tingkatan kualitasnya dibagi menjadi, dua bagian pokok, yaitu Hadits shahih dan Hadits hasan, dan masing-masing terdiri dari dua bagian, yaitu shahih lidzatihi, shahih lighairihi dan hasan lidzatihi, hasan lighairihi

Maka dari itu, apabila ditinjau dari sifatnya. Maka hadits maqbul terbagi pula menjadi dua, yakni Hadits maqbul yang dapat diterima menjadi hujjah dan dapat pula diamalkan, inilah yang disebut dengan hadits maqbul ma’mulun bih.

Disamping itu juga ada Hadits maqbul yang tidak dapat diamalkan, yang disebut dengan hadits maqbul ghairu ma’mulin bih. Berikut ini adalah rincian dari masing-masing hadits tersebut yakni sebagai berikut :

Hadits Maqbul Ma’mulin Bih

Hadits Maqbul Ma’mulin bih terdiri atas :

 

  • Hadits Ta’rif Muhkam

Al-Muhkam menurut bahasa artinya yang dikokohkan, atau yang diteguhkan. Yaitu hadits-hadits yang tidak mempunyai saingan dengan hadits yang lain, yang dapat mempengaruhi artinya. Dengan kata lain tidak ada hadits lain yang melawannya. Dikatakan muhkam ialah karena dapat dipakai sebagai hukum lantaran dapat diamalkan secara pasti, tanpa syubhat sedikitpun. Selain itu dikarenakan tidak memerlukan ta’wil. Hadits yang memerlukan ta’wil dinamai Mutasyabih.

Contoh hadits Muhkam

“Allah tiada menerima sembahyang tanpa taharah.” (H.R.Jama’ah selain dari Bukhari dari Shahabi Ibnu ‘Umar).

  • Mukhtaliful Hadits

Mukhtalif artinya adalah yang bertentangan atau ada yang melawaninya. Sedangkan secara istilah ialah hadits yang diterima namun pada dhahirnya kelihatan bertentangan dengan hadits maqbul lainnya dalam maknanya, akan tetapi memungkinkan untuk dikompromikan antara keduanya. Kedua buah hadits yang berlawanan ini kalau bisa dikompromikan, diamalkan kedua-kaduanya.

Contoh Hadits Mukhtalif

“Tak ada penularan dan tak ada pengambilan sial dalam Islam.” (H.R. Ahmad dan Muslim dari Jabir).

  • Hadits Rajih Marjuh

Yaitu sebuah hadits yang terkuat diantara dua buah hadits yang berlawanan maksudnya. Jika tak dapat diketahui mana yang terdahulu dan mana yang terkemudian, hendaklah dicari dan diperiksa jalan-jalan datangnya untuk menguatkan yang satu atas yang lain. Maka yang dipandang lebih kuat, dinamai Rajih (yang kuat) dan yang menentangnya dinamai Marjuh (yang tidak kuat). Yang Rajih itulah yang diamalkan sedang yang Marjuh ditinggalkan, tak dapat dipakai dan diamalkan.

Contoh Hadits Marjuh :

“Barang siapa berjunub sehingga subuh, maka tak ada puasa baginya.” (H.R. Bukhari dan Muslim dari Shahabi Abu Hurairah)

Contoh Hadits Rajih :

“Adalah Nabi Saw berjunub sehingga subuh, dari karena bersetubuh, bukan karena bermimpi, kemudian berpuasa. Hal itu terjadi dalam bulan Ramadhan.” (H.R.Bukhari dan Muslim dari Aisyah dan Ummu Salamah)

Hadits yang pertama menerangkan bahwa orang yang tak dapat mandi junub sebelum terbit fajar, tak dapat berpuasa, wajib mengganti puasa hari itu. Hadits kedua menerangkan, bahwa Nabi sendiri ada berjunub sehingga masuk subuh (Nabi berjunub sebelum terbit fajar, tetapi sesudah masuk subuh baru Nabi mandi).

Hadits-hadits ini berlawanan dan tidak dapat diketahui mana yang terdahulu dan mana yang terkemudian. Karena itu lalu, ulama hadits memeriksa mana yang lebih kuat. Maka mereka dapati bahwa hadits yang tidak membolehkan itu diriwayatkan oleh seorang saja, yaitu Abu Hurairah, sedang hadits yang kedua diriwayatkan oleh dua orang istri Rasul, yaitu Aisyah dan Ummu Salamah. Kedua Istri beliau lebih mengetahui keadaan Rasul dari pada Abu Hurairah. Lantaran hadits yang kedua, dua orang yang meriwayatkan, maka ditarjihkanlah hadits yang kedua atas yang pertama. Dengan demikian hadits yang kedualah yang kita pakai dan dinamakan hadits Rajih, sedang yang pertama dinamakan Hadits marjuh, tidak dipakai.

  • Hadits Mutawaqqaf fiehi

Jika tak dapat diperoleh jalan yang menguatkan salah satu itu, maka hendaklah kedua-dua hadits itu ditinggalkan untuk sementara, selama belum diperoleh jalan-jalan yang dapat dipakai untuk menguatkan salah satunya. Dan hadits-hadits ini dinamakan Mutawaqqaf-Fieh.

Jika yang berlawanan itu lemah, maka perlawanannya tidak menjadi pembicaraan. Ia dipandang sebagai tidak ada.

  • Hadits Nasikh Mansukh

Yakni hadits yang datang lebih akhir, yang menghapuskan ketentuan hukum yang terkandung dalam hadits yang datang mandahuluinya. Hadits-hadits yang berlawanan itu, ada kalanya dapat dikumpulkan, ada kalanya tidak. Jika tak mungkin dikumpulkan, tetapi dapat diketahui mana yang terkemudian dari keduanya maka yang terkemudian itu, dinamai Nasikh (penghapus hukum) dan yang terdahulu dinamai Mansukh (yang telah dihapuskan hukumnya). Yang terkemudian itulah yang diamalkan dan yang terdahulu tidak lagi diamalkan, walaupun ia dipandang shahih.

Contoh Hadits yang dimansukhkan :

“Apabila seseorang kamu duduk untuk membuang air (besar atau kecil), maka janganlah ia menghadap kiblat dan janganlah ia membelakanginya.” (H.R. Ahmad dan Muslim dari Abu Hurairah.)

Contoh hadits yang menasakhkan (menasikhkan) :

“Nabi Saw telah menengah kita menghadap kiblat ketika membuang air kecil, maka aku telah melihatnya, setahun sebelum beliau berpulang, menghadapinya.” (menghadapa kiblat ketika buang air). (H.R. Jama’ah dari Jabir)

Hadits pertama menunjukkan larangan sedangkan hadits kedua menunjukkan kebolehan . Oleh karena hadits-hadits ini dapat diketahui mana yang terdahulu dan mana yang terkemudian dengan mudah, nyatalah hadits yang pertama itu telah dimansukhkan tiada dipakai lagi hukumnya. Dan jadilah hukum menghadapi kiblat ketika membuang air, boleh hukumnya.

Kemudian harus dimaklumi, bahwa pekerjaan mengumpulkan hadits yang pada lahirnya bertentangan satu sama lain adalah pekerjaan yang sukar, tak boleh dilakukan sembarang orang. Pekerjaan itu hanya dilakukan oleh ahli-ahli yang sudah luas ilmunya dalam urusan hadits, fiqh, ushul dan tauhid.

Contoh dari hadits Maqbul ma’mulul bih banyak sekali. Secara garis besar pembagiannya ialah hadits yang tidak ada perlawanannya dengan hadits lain dan hadits yang terjadi perlawanan dengan hadits lain. Sebagai contoh akan dikemukakan tentang hadits yang tidak memiliki perlawanan dengan hadits lain (Hadits Muhkam) berikut ini.

“janganlah kamu larang isterimu untuk pergi kemesjid (untuk bersembahyang), tetapi sembahyang dirumah lebih baik bagi mereka” (H.R Abu Daud dari Ibnu Umar)

Contoh Hadits yang memiliki perlawanan dari hadits lain tetapi salah satu dari hadits tersebut telah menghapus ketentuan hukum yang terkandung dari hadits yang turun sesudahnya (hadits  nasikh). Yakni sebagai berikut :

Barra berkata : “sesungguhnya nabi saw. pernah sembahyang menghadap baitul maqdis selama enam belas bulan”. (Riwayat Bukhari)

Hukum menghadap kiblat ke baitul maqdis itu telah dinasikhkah oleh Allah pada firmanNya :

“hendaklah kamu menghadapkan mukamu kearah masjidil haram (ka’bah). (QS. Albaqarah :144)

Hadits Maqbul Ghairu Ma’mul bih

Hadits Maqbul Ghairu Ma’mul bih adalah hadits yang tidak dapat diamalkan. Hal-hal yang menyebabkan hadits maqbul tidak dapat diamalkan adalah sebagai berikut :

  1. 1.      Apabila hadits tersebut telah di nasakhkan (dihapuskan, dibatalkan ) oleh hadits lain. Dalam hal ini yang diamalkan adalah hadits yang menasakhkan (nasikh), sedangkan yang dinasakhkan (mansukh) ditinggalkan .
  2. 2.      Apabila hadits tersebut tidak sejalan dengan hadits lain dan setelah di-tarjih (dikuatkan) ternyata hadits tersebut rendah kualitasnya dibanding  dengan yang lain.  Dalam hal ini yang diamalkan adalah hadits yang kuat (rajih), sedangkan hadits yang lemah (marjuh) ditinggalkan.
  3. 3.      Apabila hadits tersebut bertentangan dengan hadits lain, tidak mungkin dikompromikan, tidak ditemukan bukti telah terjadi nasakh, dan tidak dapat pula di-tarjih, maka dalam hal ini kedua hadits tersebut (meskipun sama-sama kategori maqbul ) di-tawaqquf-kan (ditangguhkan) pengamalannya.

 

Hadits Maqbul Ghairu Ma’mul bih terdiri dari :

  • Hadits Mutasyabih

Yakni hadits yang sukar dipahami maksudnya lantaran tidak dapat diketahui takwilnya. Ketentuan hadits mutasyabih ini ialah harus diimankan adanya, tetapi tidak boleh diamalkan.[6]

  • Hadits Mutawaqqaffihi

Yakni dua buah hadits maqbul yang saling berlawanan yang tidak dapat di kompromikan, ditarjihkan dan dinasakhkan. Kedua hadits ini hendaklah dibekukan sementara.

  • Hadits Marjuh

Yakni sebuah hadits maqbul yang ditenggang oleh oleh hadits Maqbul lain yang lebih kuat. Kalau yang ditenggang itu bukan hadits maqbul, bukan disebut hadits marjuh.

  • Hadits Mansukh

Secara bahasa mansukh artinya yang dihapus, Yakni maqbul yang telah dihapuskan (nasakh) oleh hadits maqbul yang datang kemudian.

Hadits Maqbul yang maknanya berlawanan dengan alQur’an, Mutawatir, akal yang sehat dan ijma’ ulama.

Contoh dari hadits Maqbul ghairu ma’mul bih ini salah satunya ialah tentang hadits yang bertentangan dengan akal sehat yakni berikut ini :

”Konon termasuk yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw. Wahyu yang diturunkan di malam hari dan nabi melupakannya disiang hari” (HR. Ibnu Abi Hatim dari Riwayat Ibnu Abbas r.a)

Hadits tersebut secara akal sehat, sebab menerima anggapan bahwa nabi pernah lupa sedangkan menurut akal sehat dan putusan ijma’ nabi ialah terpelihara dari dosa dan kelupaan (ma’shum) dalam menyampaikan syariat dan wahyu.

2.4  Hadits Maqbul dari tingkat kualitas

  • Hadits Shohih

Menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Nukhbatul Fikar, yang dimaksud dengan hadits shahih adalah Hadits yang dinukil (diriwayatkan) oleh rawi yang adil, sempurna ingatan, sanadnya bersambung-sambung, tidak ber’illat dan tidak janggal.

Dalam kitab Muqaddimah At-Thariqah Al-Muhammadiyah disebutkan bahwa definisi hadits shahih itu adalah Hadits yang lafadznya selamat dari keburukan susunan dan maknanya selamat dari menyalahi ayat Quran.

  • Hadits Hasan

Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Nukhbatul Fikar menuliskan tentang definisi hadits Hasan, yaitu Hadits yang dinukilkan oleh orang yang adil, yang kurang kuat ingatannya, yang muttashil (bersambung-sambung sanadnya), yang musnad jalan datangnya sampai kepada nabi SAW dan yang tidak cacat dan tidak punya keganjilan.

At-Tirmizy dalam Al-Ilal menyebutkan tentang pengertian hadits hasan, yaitu Hadits yang selamat dari syuadzudz dan dari orang yang tertuduh dusta dan diriwayatkan seperti itu dalam banyak jalan.

Al-Khattabi menyebutkan tentang pengertian hadits hasan, yaitu Hadits yang orang-orangnya dikenal, terkenal makhrajnya[7] dan dikenal para perawinya.

Jumhur ulama: Hadits yang dinukilkan oleh seorang yang adil (tapi) tidak begitu kuat ingatannya, bersambung-sambung sanadnya dan tidak terdapat ‘illat serta kejanggalan matannya.

Maka bisa disimpulkan bahwa hadits hasan adalah hadits yang pada sanadnya tiada terdapat orang yang tertuduh dusta, tiada terdapat kejanggalan pada matannya dan hadits itu diriwayatkan tidak dari satu jurusan (mempunyai banyak jalan) yang sepadan maknanya.

 

2.5       Klasifikasi Hadits Hasan

ü  Hadits Hasan Lidzatih, Yaitu hadits hasan yang telah memenuhi syarat-syaratnya. Atau hadits yang bersambung-sambung sanadnya dengan orang yang adil yang kurang kuat hafalannya dan tidak terdapat padanya sydzudz dan illat.

Di antara contoh hadits ini adalah:

لولاأنأشقعلىأمتيلأمرتهمبالسواكعندكلصلاة

Seandainya aku tidak memberatkan umatku, maka pasti aku perintahkan untuk menggosok gigi setiap waktu shalat.

ü  Hadits Hasan lighairih, Yaitu hadits hasan yang sanadnya tidak sepi dari seorang mastur (tak nyata keahliannya), bukan pelupa yang banyak salahnya, tidak tampak adanya sebab yang menjadikan fasik dan matan haditsnya adalah baik berdasarkan periwayatan yang semisal dan semakna dari sesuatu segi yang lain.
Ringkasnya, hadits hasan li ghairihi ini asalnya adalah hadits dhaif (lemah), namun karena ada ada mu’adhdhid, maka derajatnya naik sedikit menjadi hasan li ghairihi. Andaikata tidak ada ‘Adhid, maka kedudukannya dhaif.

Di antara contoh hadits ini adalah hadits tentang Nabi SAW membolehkan wanita menerima mahar berupa sepasang sandal:

أرضيتمننفسكومالكبنعلين؟قالت: نعم،فأجاز

“Apakah kamu rela menyerahkan diri dan hartamu dengan hanya sepasang sandal ini?” Perempuan itu menjawab, “Ya.” Maka nabi SAW pun membolehkannya.

Hadits ini asalnya dhaif (lemah), karena diriwayatkan oleh Turmuzy dari ‘Ashim bin Ubaidillah dari Abdullah bin Amr. As-Suyuti mengatakan bahwa ‘Ashim ini dhaif lantaran lemah hafalannya. Namun karena ada jalur lain yang lebih kuat, maka posisi hadits ini menjadi hasan li ghairihi.

 2.6      Tingkatan Hadits Hasan

Sebagaimana hadits shahih, hadits hasan juga mempunyai tingkat kualitas tertentu. Al-Dzahabi membagi kualitas hadits hasan menjadi dua tingkatan :

  1. Tingkatan yang paling tinggi, yaitu hadits hasan yang diriwayatkan melalui Bahz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya, dan ibn ishaq dari al-Taimi serta contoh lainnya dari hadits shahih yang berkualitas paling rendah.
  2. Kemudian peringkat dibawahnya, yaitu hadits yang masih diperselisihkan keshahihan dan kedla’ifannya, seperti yang diriwayatkan oleh al-harits bin Abdullah, Ashim bin Dlamrah, Hujjaj bin Aratah dan lain sebagainya.

2.7       Hukum Hadits Hasan

Hadits hasan sama nilainya dengan hadits shahih yakni sma-sama bisa dipakai sebagai hujjah, walaupun kekuatannya berada di bawah hadits shahih. Oleh karena itu semua ulama akli fiqh memakainya sebagai hujjah dan mengamalkannya, demikian juga debagian besar ulama ahli jadits dan ushul fiqh, sebagian juga ada dari golongan garis keras yang menolak sebagian ulama seperti Ibn Hibban, al-Hakim dan Ibn Huzaimah terlalu gegabah memasukkan hadits hasan ke dalam kategori hadits shahih, walaupun diakui bahwa hadits hasan lebih rendah nilainnya daripada hadits shahih.

 

2.8       Syarat-syarat Hadits Shohih

Imam Asy-Syafi’i mengemukakan bahwa hadits shahiih adalah hadits yang memenuhi lima syarat sebagai berikut  :

ü  Rawinya bersifat adil, artinya seorang rawi selalu memelihara ketaatan dan menjauhi perbuatan maksiat, menjauhi dosa-dosa kecil, tidak melakukan perkara mubah yang dapat menggugurkan iman, dan tidak mengikuti pendapat salah satu mazhab yang bertentangan dengan dasar syara’. Istiqamah dalam beragama, tidak tidak fasik serta senantiasa memelihara kehormatan dirinya.

ü  Periwayatnya haruslah orang-orang yang dhabith, yakni orang-orang yang mempunyai kemampuan menghafal dan menyampaikan kembali apa yang diterima dan dihafalnya dengan baik kapan dikehendaki jika ia meriwayatkan hadits berdasarkan hafalannya, menguasai apa yang diriwayatkan, memahami maksudnya dan maknanya. Atau orang-orang yang mempunyai catatan hadits yang rapi dan terpelihara baik jika ia meriwayatkan hadits berdasarkan catatannya.

ü  Sanadnya tiada putus (bersambung-sambung) artinya antara satu periwayat dengan periwayat yang lain saling berjawat (secara runtut) dalam menerima dan menyampaikan hadits tersebut sehingga satu dengan yang lainnya merupakan satu mata rantai yang tidak terputus sejak dari sahabat yang menerima dari Rasulullah SAW sampai kepada periwayat terakhir yang menuliskannya dalam kitab hadisnya, sahih al-Bukhari. Menurut Imam Al-Bukhari, persambungan sanad baru akan diterima apabila ada bukti bahwa antara satu periwayat dan periwayat lain sebelum dan sesudahnya pernah saling bertemu (al-liqa’) yang memungkinkan terjadinya proses pemindahan periwayatan secara langsung. Sedangkan Imam Muslim mecukupkan persyaratan persambungan sanad itu dengan adanya bukti bahwa satu periwayat dan periwayat lainnya pernah hidup semasa dan satu gennerasi. Hadits itu tidak ber’illat (penyakit yang samar-samar yang dapat menodai keshahihan suatu hadits).

ü  Tidak janggal, artinya riwayat itu tidak mengandung pertentangan  dengan riwayat lain yang lebih tinggi kualitasnya.

ü  Tidak mengandung cacat, yakni sifat-sifat buruk yang tersembunyi yang dapat merusak nilai hadits tersebut. Sifat-sifat buruk ini hanya dapat diketahui oleh ulama hadits yang mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang ilmu hadits.[8]

2.9       Hukum Hadits Shohih

Berdasarkan ijma’ ulama ahli hadits, ulama ahli ushul fiqh dan ulama ahli fiqh, hadits shahih wajib diamalkan karena ia merupakan salah satu hujjah (dasar) syari’at islam.

2.10     Tingkatan Hadits Shohih

Pendapat ahli hadits tentang adanya sanad paling shahih, sehingga kedudukan hadits shahih mempunyai beberapa tingkatan:

  1. Tingkatan yang paling tinggi adalah hadits yang diriwayatkan melalui sanad yang terdiri dari “Malik dari Nafi’ dan Nafi’ dari Ibnu Umar”
  2.  Tingkatan dibawahnya adalah hadits yang diriwayatkan melalui snad yang terdiri dari “hammad bin salmah dri tsabit dari anas”
  3.  Tingkatan dibawahnya lagi adalah hadits yang diriwayatkan melalui sanad yang terdiri dari “ Suhail bin Shaleh dari ayahnya dari Abu Hurairah”
  4. Atas dasar rincian tersebut diatas, maka hadits shahih terbagi menjadi 7 ( tujuh ) tingkatan yaitu:
  • Hadits yang “muttafaq ‘alaih” atau yang disepakati oleh kedua imam hadits al bukhari dan muslim tentang sanadnya.
  • Hadits yang hanya diriwayatkan (ditakhrij) oleh al-Bukhri sendiri
  • Hadits yang diriwayatkan (ditakhrij) oleh muslim sendiri
  • Hadits yang diriwayatkan menurut syarat-syarat al-Bukhari dan muslim sedang keduanya tidak mentakhrijnya
  • Hadits yang diriwayatkan menurut syarat al-Bukhari sedang dia sendiri tidak mentakhrijnya
  • Hadits yang diriwayatkan menurut syarat Muslim sedang dia sendiri tidak mentakhrijnya
  • Hadits shahih menurut imam-imam hadits terkenal yang lain, yakni tidak menurut salah satu syarat al-Bukhari dan muslim, seperti hadits shahih menurut ibn Huzaimah, menurut ibn Hibban dn lain sebagainya.

2.11     Klasifikasi Hadits Shahih

ü  Hadits Shahih Li-ghairih

Hadits shahih yang memenuhi syarat-syarat seperti diatas, dinamakan “hadits shahih li-dzthi”, dan syart kedlabithan seorang perawi kurang sempurna , turun nilainya menjadi “hadits hasan li-dzathi”. Sedangkan hadits hasan li-dzathi bisa naik nilainya menjadi shahih li-ghairih apabila juga diriwayatkan melalui jalur sanad lain yang serupa atau ;ebih kuat, karena keshahihannya tidak disebabkan dari sanadnya itu sendiri, namun karena tergabungnya snad lain tersebut. Kualitas hadits shahih li-ghairih lebih tinggi daripada hadits hasan li-dzathi.

Contoh hadits shahih li-ghairih, hadits riwayat muhammad Bin’amr dari abi Salmah dari abu Hurairah ra :

Bahwa Rasulullah SAW, telah bersabda:  “Seandainya saya tidak khawatir menyusahkan umatku, tentu saya menyurhnya mereka menyikat gigi (bersiwak) setiap akan shalat.”

Menurut ibn Shalah, Muhammad bin ‘Amr bin Alqamah tergolong orang yang terkenal kejujurannya dan terjaga dari dosa, tetapi dia tidak tergolong cermat dalam menyadap hadits, sehingga sebagian ulama hadits mendla’ifkan karena hafalannya buruk. Sebagian ulama menilai dia sebagai orang yang terpercaya karena kejujuran dan keagungannya, maka haditsnya bernilai sanad lain, maka kekurangn di atas menjadi tertutupi, yakni kurangnya hafalan muhammad ‘Amr bin Alqamah. Dengan demikian kualitas hadits tersebut naik menjadi shahih, hanya saja keshahihannya karena faktor lain sehingga ia menjadi shahih al-ghairih.

2.12     Pembukuan Hadis Shahih

Ulama yang pertama kali membukukan hadis shahih secara khusus ialah imam Al-Bukhari dengan kitabnya, Al-Jami’ Al-Musnad As-Shahih Al-Mukhtasar min Umur Rasulullah SAW wa Sunanih wa Ayyamih yang lebih populer dengan nama Shahih al-Bukhari. Kemudian Imam Muslim dengan kitabnya al-Jami’ as-Shahih Muslim yang lebih populer dengan nama Shahih Muslim. Kedua kitab Shahih ini dianggap memuat hadis-hadis sahih.[9]


[1]Yusuf Qardhawi, Sunnah Rasul : Sumber Ilmu Pengetahuan dan Peradaban (Jakarta : Gema Insani Press, 1998), hal. 85

[2] Ibid., hal. 85

[3] Hujah adalah alasan yang harus dikemukakan untuk menetapkan atau mempertahankan pandangan yang diajukan; juga disebut dalil (dasar penetapan hukum).

[4] Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam : Jilid 2 (Jakarta : Ichtiar Baru van Hoeve, 1996), hal. 438

[5] Ibid., hal. 438

[6] Ibid., hal. 439

[7]Yang dimaksud dengan makhraj adalah dikenal tempat di mana dia meriwayatkan hadits itu. Seperti Qatadah buat penduduk Bashrah, Abu Ishaq as-Suba’i dalam kalangan ulama Kufah dan Atha’ bagi penduduk kalangan Makkah.

4Banyak waham (prasangka) disebut hadits mu’allal.

5Menyalahi riwayat orang kepercayaan.

Tidak diketahui identitasnya (hadits Mubham)

[8] Ibid., hal. 452

[9] Ibid., hal. 453

Bisa mendownload Makalahnya di sini :

Ayat & Hadits Ekonomi_Klasifikasi Hadits Maqbul